Live Journal

My Life as Reza Puradiredja

Superhero behind Superhero

with 3 comments

Hari ini kulalui tanpa beban. Seperti biasa aku masuk dari rumah ke rumah, mengetuk setiap pintu yang tertutup dan mencoba menawarkan daganganku. Kadang yang kuterima hanya penolakan. Kadang yang kuterima ditambah penghinaan. Kadang yang kuterima adalah kekasaran bahkan kekerasan. Namun adakalanya yang kuterima adalah kehangatan dan segelas air putih untuk menghilangkan dahaga, walaupun tetap saja tidak membuatku berhasil menjual apapun. Malamnya setelah menyampaikan laporanku kepada Supervisor, peringatan akan buruknya penjualan yang kuhasilkan pun harus kuterima dengan lapang dada.

Sesampainya di rumah, istriku selalu menyambutku dengan segelas teh hangat dan sepiring singkong rebus. Tak pernah sekalipun aku mendengarnya berkeluh kesah tentang hidup kami yang sangat sederhana. Yang selalu kudengar adalah pertanyaannya tentang pekerjaanku hari ini, jika aku gagal hari itu, ia seperti biasa memberi dorongan semangat agar aku tidak putus asa dan berkata bahwa kegagalan itu hanyalah sukses yang tertunda, bahwa setiap orang sukses pasti pernah gagal, dan yang selalu aku ingat adalah kata – katanya setiap hari sebelum aku berangkat di pagi hari, “…seseorang bukan dinilai dari berapa kali dia jatuh, namun dari berapa kali dia bangkit dari kejatuhannya…”.

Seminggu kemudian, untuk pertama kalinya aku dipanggil menghadap supervisor. Dalam perjalanan ke kantor, aku bertanya – tanya apa gerangan kesalahanku, aku ketakutan membayangkan apa yang akan terjadi setibanya aku di kantor nanti.

Ketakutanku semakin bertambah ketika tiba di kantor. Di ruangan supervisor juga telah menunggu Manajer Pemasaran. Dengan langkah berat akupun memasuki ruangan dan segera dipersilakan duduk oleh Supervisor. Aku hampir – hampir tidak mampu menjawab ketika sang Manajer bertanya kepadaku, dan segera disadarkan oleh Supervisor.

Sang Manajer Pemasaran dengan senyuman bertanya untuk kedua kalinya kepadaku “…apa yang membuat anda tetap bekerja setiap hari hingga malam hari, walaupun hasil penjualan anda selalu dibawah rata – rata, bahkan kadang nol ? Rekan – rekan anda telah banyak yang mengundurkan diri karena tidak kunjung berhasil memenuhi target.”

Aku terdiam sejenak, dan menyadari bahwa mungkin ini adalah pertanyaan pancingan agar aku tahu diri dan segera meminta pengunduran diri. Sekilas aku teringat pada istriku di rumah yang selalu dengan sabar menanti keberhasilanku. Aku sadar bahwa apapun yang kukatakan tidak akan menghalangi sang Manajer untuk memecatku, dan tidak ada untungnya bagiku saat ini untuk tidak berkata jujur.

Aku hanya menjawab “…pak manajer, saya bekerja disini demi keluarga. Saya berjuang setiap hari bukan untuk sejumlah kecil uang komisi yang perusahaan berikan, namun lebih kepada rasa tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga. Apa yang harus saya katakan kepada anak istri saya di rumah, jika saya gagal hanya karena saya kurang berusaha ? seumur hidup saya akan menanggung beban itu, saya sudah melakukan yang terbaik, dan semua orang di kantor ini menjadi saksi termasuk bapak sendiri…

Hari itu aku kehilangan pekerjaanku. Hari itu aku kehilangan sesuatu yang membuatku merasa menjadi kepala keluarga. Hari itu aku merasa tidak berguna sebagai laki – laki. Hari itu untuk pertama kalinya aku takut pulang ke rumah.

Seperti biasa istriku telah menantiku dengan segelas teh hangat dan sepiring singkong rebus. Saat makan malam kuceritakan semuanya. Tentang pemecatanku. Tentang perasaanku sebagai kepala keluarga. Tentang frustasiku sebagai laki – laki.

Istriku mencoba untuk menghibur dan membesarkan hatiku dengan berkata, “…suamiku, aku mau menikah denganmu karena aku yakin kau adalah orang yang bertanggung jawab dan bisa melakukan apapun demi aku. Janganlah kau merasa bersalah karena telah mencoba, namun gagal. Kau boleh merasa gagal dan merasa bersalah, jika kau telah kehilangan kemauanmu untuk mencoba…”.

Mendengar itu, rasa bersalahku semakin menjadi dan menjadikanku lebih bersemangat untuk mencoba lagi, dan mencoba lagi hingga aku berhasil.

Memang benar kata orang bijak, “…di belakang seorang pria hebat, pasti ada seorang wanita kuat yang mendukungnya…”

Written by Reza Puradiredja

15/10/2008 at 21:47

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. apa masih ada orang yang seperti ini????

    • Sebenarnya orang seperti sang Istri masih banyak di sekitar kita , hanya saja mungkin untuk menutupi kekurangan sang suami dan melindungi diri dari “omongan dan saran” dari rekan2 yang seringkali kurang produktif , mereka mengatakan sebaliknya …

      Berbohong untuk menutupi “kekurangan rumah tangga” kalo menurut saya sih bagus banget , karena kadang “kedekatan” membuat kita lupa , bahwa kita telah melangkahi batas privasi seseorang , terutama dalam hal rumah tangga

      Kita yang memilih pasangan hidup kita , berarti kita juga harus bisa menerima kekurangannya dan mencari solusi secara bersama2 bukan ? Mengeluh , apalagi kepada kiri – kanan juga nggak akan membantu , paling hanya terasa manfaatnya sebagai “curhat” yang seringkali kebablasan jadi “prasangka” …🙂

      Reza Puradiredja

      07/08/2011 at 20:22

  2. hmm.. i’m not sure ’bout that… terlalu banyak kemunafikan di dunia ini… bahkan pernikahan pun merupakan sebuah permainan belaka.. *nah loh ngerti ga tuuh??*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: