Live Journal

My Life as Reza Puradiredja

Menjadi Pemulung

leave a comment »

Menjadi pemulung, bukanlah profesi yang diharapkan dan diidamkan siapapun. Mengorek dan mengais tempat sampah, memunguti benda – benda yang sudah tidak dibutuhkan menjadi pekerjaanku sehari – hari. Sepotong kertas pembungkus yang sudah tidak terpakai, yang bagi orang lain sudah bernilai nol atau bahkan minus adalah harta yang berharga bagiku, walaupun untuk mengumpulkan dan menjadikannya selembar uang kertas hijau senilai seribu rupiah membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.

Hari ini seperti biasa, kulewati jalan yang sama menuju kota. Sebuah sekolah menengah, akan kulalui. Hari ini seperti biasa, aku mendapati cemoohan yang sama, cibiran dan pandangan yang sama dan rasa sakit yang sama. Perkataan merendahkan, bahkan cenderung kasar dan hina selalu terlontar, sampai – sampai aku berpikir, apakah pendidikan budi pekerti tidak diajarkan di sekolah lagi ?

Sambil terus berjalan, akupun berpikir, apakah mereka tidak pernah berpikir bahwa suatu saat, mereka bisa menjadi seperti diriku yang juga pernah mengecap bangku sekolah menengah, bahkan sekolah tinggi namun tetap tidak mampu untuk mendapatkan pekerjaan yang layak ? apa artinya pendidikan jika murid tidak disiapkan untuk menghadapi masa depan, yang tidak selalu cerah ? apa artinya pendidikan jika murid tidak diajarkan untuk menghadapi kenyataan bahwa seorang sarjana seperti diriku bisa saja berprofesi sebagai pemulung ?

Rintangan pertama berhasil kulalui, rintangan berikutnya menghadang. Sebuah warung kopi dimana banyak anak – anak muda yang putus sekolah, drop out perguruan tinggi dan para sarjana pengangguran biasa menghabiskan waktu sambil mengobrol dan membaca koran mencari lowongan pekerjaan.

Di tempat itu seperti biasa aku menyapa pemilik warung, yang kebetulan adalah kawanku di sekolah menengah dan memilih untuk membuka warung karena orang tuanya tidak mampu untuk membiayainya kuliah. Seperti biasa pula ia dengan senyuman menyuruh aku untuk duduk dan menyiapkan segelas kopi panas dan sepotong roti. Aku cukup tahu diri untuk tidak duduk di depan warung karena penampilanku, dan memilih untuk duduk beralaskan tikar tua yang selalu kubawa kemanapun aku pergi di belakang warung.

Pagi ini seperti biasanya aku duduk menikmati berkah ini dan mendengarkan pembicaraan orang – orang yang sedang ngopi dan sarapan itu. Aku tidak bermaksud untuk menguping pembicaraan mereka, aku hanya sekedar ingin mengetahui berita dan kabar terbaru di dunia luar sana, karena aku tidak mampu untuk membeli koran terbaru Koran yang aku baca selama ini hanyalah koran – koran tua hasil ‘koleksi’ ku dari tempat pembuangan sampah yang sudah tentu tidak baru lagi.

Hari ini aku sedikit kecewa karena pembicaraan mereka bukanlah seperti yang aku harapkan. Hari ini mereka hanya menceritakan tentang pengalaman hidup masing – masing dan mengapa hingga saat ini mereka masih saja luntang – lantung di warung kopi ini dan menganggur. Ada yang menceritakan pengalamannya dalam melamar pekerjaan dari kantor ke kantor. Ada yang menceritakan cercaan dari orang tua dan tetangganya, “…sudah sarjana koq masih nganggur…’, “…wis sekolah duwur – duwur, akhire yo podo wae dadi pengangguran, mending ora usah kuliah wae le, ngentek – ngenteki duwit…”, dan sebagainya.

Hari ini aku mendengar betapa sebuah gelar telah menjadi sebuah beban bagi penyandangnya. Hari ini aku mendengar betapa seorang sarjana bahkan memohon untuk diberi pekerjaan. Hari ini aku mendengar bahwa sebuah gelar saja tidak cukup untuk menaikkan status dan martabat seseorang.

Seorang dari mereka juga bercerita bahwa anak seorang tokoh masyarakat di kampung ini telah diterima menjadi pegawai negeri dengan membayar ‘pelicin’ sebesar 50 juta rupiah. Orang tadi bahkan berani bersumpah bahwa ceritanya bukanlah isapan jempol belaka. Orang itu juga mengaku kalau beberapa kenalannya bisa ‘membantu’ jika ada yang berminat. Mendengar hal itu akupun hanya tersenyum, karena hal – hal seperti itu bukanlah hal baru bagiku. Aku bisa masuk perguruan tinggi ternama pun karena almarhum kedua orang tuaku merelakan beberapa hektar sawahnya untuk dijual agar aku bisa membayar SPP dan Uang Gedung yang merupakan salah satu ‘syarat tak tertulis’ agar bisa diterima.

Setelah menghabiskan sarapanku, akupun melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan aku berpikir tentang apa yang kudengar dari orang – orang itu dan dalam hati aku bertanya, apa artinya pendidikan, jika suatu saat nanti mereka akan menjadi ‘pengemis’ berdasi yang berbekal surat lamaran dan ijazah mengetuk dan memohon kesana kemari untuk sebuah pekerjaan ? apa artinya pendidikan, jika suatu saat nanti mereka harus merelakan uang puluhan juta rupiah hanya untuk menjadi pegawai rendahan ? kalau memang mereka berpendidikan, mengapa uang itu tidak untuk modal saja ? paling tidak dengan jumlah yang sama, mereka akan langsung jadi bos ? mengapa pikiran orang – orang begitu sempit dalam memandang dan menjalani hidup ?

Dalam hati aku bersyukur karena keluargaku di kampung tidak mencemooh pekerjaanku, walaupun aku seorang sarjana. Dalam hati aku bersyukur karena aku mampu memberi nafkah untuk anak – istriku, walaupun ijazahku tidak terpakai. Dalam hati aku bersyukur karena aku telah diberi rizki oleh – Nya. Walaupun hina di mata orang lain, aku tetap bersyukur karena aku memperolehnya secara halal, tanpa menyuap orang lain…

Written by Reza Puradiredja

15/10/2008 at 21:49

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: