Live Journal

My Life as Reza Puradiredja

a home …

leave a comment »

Lembang 2008….

Pernah ada sahabat yang bilang, kalo kamu udah pergi…ke dunia lain sekalipun, jangan pernah lupakan disini adalah rumahmu

Aku inget banget betapa kata – kata itu diucapkan dengan penuh ketulusan dan kejujuran walaupun waktu itu kondisi hubungan kami bisa dikatakan sangat buruk sampai aku mikir gak ada yang bakal lebih buruk dari saat itu.

But, guess what ? I was totally wrong !

Bisa dibilang kata – kata itu hanya tinggal kata – kata yang Cuma bisa aku bayangin, karena ternyata rumahku bukan lagi rumahku walaupun aku belum pergi ke dunia lain… aku diusir secara tidak langsung oleh pihak yang menyatakan akan selalu membuka pintu bagiku…tanpa pernah seucap katapun pernah tersampaikan dari mulutnya

Sebagai pekerja seni sudah ribuan kali karyaku ditolak bahkan diinjak – injak.

Sebagai pengusaha modal dengkul sudah ribuan kali pula proposalku ditolak sebelum sempat dibaca

Sebagai manusia sudah ribuan kali aku ditolak dan ditindas oleh keadaan dan sesama umat manusia

You name it, I’ve been there !

Selama ini aku bisa terima penolakan – penolakan tadi sebagai pemicu ‘my self pride’ dan biasanya berimbas pada kebulatan tekad yang amat sangat untuk merebut kembali harga diriku yang sudah tercabut dan terinjak

Tapi kenapa kali ini … different ?

Tanpa sepatah kata penolakan

Tanpa cercaan, makian ataupun cemoohan

Tanpa apapun

Tapi terasa begitu dalam dan menyakitkan

Kenapa kali ini aku gak bisa terima ?

Bukan kemarahan

Bukan kekecewaan

Bukan pula dendam

Lalu apa ?

Seumur hidup belum pernah aku membanting pintu di depan orang lain

Bahkan aku selalu membukakan pintu sebelum orang lain mengetuk

Dan selalu aku persilahkan

…untuk sekedar masuk

…menikmati suguhan

Dan berbagi kisah

Setelah itu terserah kepada sang tamu

Apakah dia akan pulang

Apakah dia akan tinggal untuk sementara

Atau selamanya ?

Tamu adalah raja … yang tidak diundang sekalipun

Karena tidak ada yang mengetahui

Dimana rumahku

Siapa aku

Apakah aku

Selain….

Seorang tamu yang berkunjung ke rumahku

Bukanlah seorang tamu

Karena mereka sendiri yang menciptakan rumahku

Aku hanya menerima

Tak kuasa pula menolak

Bukan karena keterpaksaan

Namun kerelaan

Ketika mereka membangun rumah itu

Aku pun turut membangunnya

Tiang demi tiang

Aku tegakkan

Sebagai fondasi yang kokoh

Agar rumah ini tetap berdiri

Diguncang gempa

Ditiup badai

Diguyur hujan

Dihantam banjir

Tidak akan ada yang bisa merusak

Bangunan yang akan menjadi rumahku

Rumah yang mereka bangun

Dengan ketulusan

Dengan impian

Dengan harapan

Dan cinta

Rumah itu akan tetap berdiri

Walaupun hampa

Walaupun sunyi

Walaupun harapan telah sirna

Hanya aku yang bisa menjaga

Hanya aku pula yang bisa menghancurkannya

Salahkah aku jika rumah itu tetap kokoh berdiri

Walaupun kehampaan

Walaupun kesunyian

Walaupun tanpa penghuni

Rumah itu akan tetap berdiri

menanti sang pendiri

untuk kembali menghuni

Written by Reza Puradiredja

12/10/2008 at 10:03

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: