Live Journal

My Life as Reza Puradiredja

A House that is not a home … yet

leave a comment »

Pernah ada sahabat yang bilang, kalo kamu udah pergi…ke dunia lain sekalipun, jangan pernah lupakan disini adalah rumahmu

Aku inget banget betapa kata – kata itu diucapkan dengan penuh ketulusan dan kejujuran walaupun waktu itu kondisi hubungan kami bisa dikatakan sangat buruk sampai aku mikir gak ada yang bakal lebih buruk dari saat itu.

But, guess what ? I was totally wrong !

Bisa dibilang kata – kata itu hanya tinggal kata – kata yang Cuma bisa aku bayangin, karena ternyata rumahku bukan lagi rumahku walaupun aku belum pergi ke dunia lain… aku diusir secara tidak langsung oleh pihak yang menyatakan akan selalu membuka pintu bagiku…tanpa pernah seucap katapun pernah tersampaikan dari mulutnya

Sebagai pekerja seni sudah ribuan kali karyaku ditolak bahkan diinjak – injak.
Sebagai pengusaha modal dengkul sudah ribuan kali pula proposalku ditolak sebelum sempat dibaca
Sebagai manusia sudah ribuan kali aku ditolak dan ditindas oleh keadaan dan sesama umat manusia
You name it, I’ve been there !

Selama ini aku bisa terima penolakan – penolakan tadi sebagai pemicu ‘my self pride’ dan biasanya berimbas pada kebulatan tekad yang amat sangat untuk merebut kembali harga diriku yang sudah tercabut dan terinjak

Tapi kenapa kali ini … different ?

Tanpa sepatah kata penolakan
Tanpa cercaan, makian ataupun cemoohan
Tanpa apapun
Tapi terasa begitu dalam dan menyakitkan

Kenapa kali ini aku gak bisa terima ?

Bukan kemarahan
Bukan kekecewaan
Bukan pula dendam

Lalu apa ?

Seumur hidup belum pernah aku membanting pintu di depan orang lain
Bahkan aku selalu membukakan pintu sebelum orang lain mengetuk
Dan selalu aku persilahkan

…untuk sekedar masuk
…menikmati suguhan
Dan berbagi kisah

Setelah itu terserah kepada sang tamu

Apakah dia akan pulang
Apakah dia akan tinggal untuk sementara
Atau selamanya ?

Tamu adalah raja … yang tidak diundang sekalipun
Karena tidak ada yang mengetahui

Dimana rumahku
Siapa aku
Apakah aku

Selain….

Seorang tamu yang berkunjung ke rumahku
Bukanlah seorang tamu
Karena mereka sendiri yang menciptakan rumahku

Aku hanya menerima
Tak kuasa pula menolak
Bukan karena keterpaksaan
Namun kerelaan

Ketika mereka membangun rumah itu
Aku pun turut membangunnya

Tiang demi tiang
Aku tegakkan
Sebagai fondasi yang kokoh
Agar rumah ini tetap berdiri

Diguncang gempa
Ditiup badai
Diguyur hujan
Dihantam banjir

Tidak akan ada yang bisa merusak
Bangunan yang akan menjadi rumahku

Rumah yang mereka bangun
Dengan ketulusan
Dengan impian
Dengan harapan
Dan cinta

Rumah itu akan tetap berdiri
Walaupun hampa
Walaupun sunyi
Walaupun harapan telah sirna

Hanya aku yang bisa menjaga
Hanya aku pula yang bisa menghancurkannya

Salahkah aku jika rumah itu tetap kokoh berdiri
Walaupun kehampaan
Walaupun kesunyian
Walaupun tanpa penghuni

Rumah itu akan tetap berdiri
menanti sang pendiri
untuk kembali menghuni

Written by Reza Puradiredja

28/12/2011 at 23:37

Posted in Personal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: