Live Journal

My Life as Reza Puradiredja

THIS IS MY STORY … part 1

with 2 comments

Ketika seseorang berkisah tentang kereta api , saya tidak akan melupakan kisah di suatu masa ketika kedewasaan dan kekanakan masih silih berganti menguasai diri , dimana inspirasi , kreatifitas yang menggelegak bagaikan tertahan oleh kedewasaan yang terkesan membatasi … ya , masa – masa kuliah di Yogyakarta …

Saya bukan penggemar kereta api , bukan pula seorang commuter yang membutuhkan moda itu sebagai sarana transportasi, tapi saya bisa mengatakan bahwa saya adalah seorang penggemar perjalanan,

  dengan kereta api sebagai salah satu toolsnya. Tidak jarang saya melakukan perjalanan dengan KA di siang hari, menenteng sebuah kamera rangefinder mini hanya untuk “membuang rol” dan membersihkan pikiran dari pemikiran yang tak kunjung usai , ataupun hanya sekedar untuk mengalihkan otak agar memikirkan hal lain … dan , ya, sebagian besar dari roll film itu tidak pernah saya proses hingga saat ini😉

Perjalanan siang hari dengan kereta api –bukan di peak season- buat saya merupakan kesempatan saya untuk menikmati udara luar , berinteraksi dengan berbagai kalangan manusia dan juga memberikan tantangan tersendiri. Panas , bau tak sedap dan polusi suara tentu hal yang sangat tidak menyenangkan bagi beberapa orang. Justru hal – hal itulah yang biasanya memicu otak saya untuk selalu berpikir, bagaimana mengatasinya dalam perjalanan saya. Mulai dari berjalan dari gerbong pertama hingga gerbong terakhir dan biasanya berakhir dengan obrolan dan photo session dengan kru dengan imbalan segelas kopi susu untuk pengganti roll yg saya berikan secara gratis

☺.

Setibanya dikota tujuan , sambil menunggu KA untuk kembali ke Jogjakarta biasanya saya lewatkan dengan mencari sweet spot , dimana saya bisa meluruskan kaki dan kadang untuk beberapa menit saya memejamkan mata. Atau jika kebetulan kota tujuan tersebut adalah Jakarta , saya biasa memanfaatkan beberapa jam penantian itu bukan untuk mengunjungi sanak kerabat ataupun kawan, tapi berbelanja film, terutama untuk film2 hitam putih yang kurang ternama.

Dalam perjalanan kembali ke Yogyakarta yang tentunya pada malam hari , biasanya saya manfaatkan untuk benar – benar beristirahat dengan cara mempersilakan penumpang di sebelah saya untuk menggunakan kursi saya, sementara saya menggelar koran dan menjadikan tas sebagai bantal. Itulah mengapa tissue dan cairan antiseptik selalu saya bawa , karena saat perjalanan -yang sering tanpa perencanaan dan jadwal- sangat mungkin saya harus tidur dimanapun, termasuk di lantai sebuah KA.

Perjalanan tadi bukan hanya menghasilkan ratusan roll film dan ribuan lembar foto, tapi juga menghasilkan puluhan kawan , ratusan perkenalan dan ribuan kisah. Semua itu tetap tersimpan dalam benak dan kadang saya tuangkan dalam bentuk tulisan , visualisasi fotografi dan karya digital, namun kebanyakan berakhir sebagai bahan renungan dan pemikiran yang saya bawa hingga saat ini. Semua berkat prinsip “Lihat Isi , bukan Sampul” yang sangat membantu saya untuk mendalami, bahkan menjalani apa yg menjadi pengalaman orang lain

Bagaimana seorang anak memilih untuk tinggal di gerbong2 kosong di stasiun, bekerja sebagai pedagang asongan KA pada malam hari dan bersekolah di siang hari hanya karena sebuah pukulan dari sang ayah yang menyulut gengsinya untuk tidak akan pernah menengadahkan tangan pada orang lain. Bagaimana seorang Ibu separuh baya yang menolak untuk dijual oleh Suaminya, ternyata telah mengelilingi Indonesia , hanya dengan berjualan secara estafet , dari KA , ke Bus Kota hingga Ke Kapal Laut … Bayangkan jika Kapal penumpang internasional dapat dimasuki pedagang asongan, mungkin Ibu ini telah mengelilingi dunia saat ini

☺Dari mereka saya belajar tentang kemauan yang luar biasa dan ketahanan akan kerasnya hidup, bahwa hidup tidak selalu harus berakhir, jika ternyata apa yang menjadi hak asasi kita sekalipun, telah dirampas dan dijajah oleh orang lain. Jika Kehidupan berjalan terus , mengapa kita harus berhenti ?

Selama perjalanan, kawan datang dan pergi, bukan hal yang aneh pula bagi seorang traveller untuk menemukan apa yang disebut dengan Intimate Journey yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup dimana perjumpaan, perkenalan, keakraban , berbagi kisah, hingga berakhir dengan perpisahan terjadi hanya dalam sejumput waktu…

 … sebut saja Adria, seorang mahasiswi yg memilih untuk meninggalkan bangku kuliahnya di Bandung, melawan keluarganya dan pindah ke Jogjakarta hanya karena tertarik dengan kehidupan sang pujaan hati yang berprofesi sebagai pemusik Cafe. Prita , seorang Doktor yang meraih gelar Phd nya dengan bekerja paruh waktu sebagai seorang Pole Dancer di States, karena musibah yang menimpa orang tuanya di Indonesia, tanpa meninggalkan satu rupiah pun. Dian , seorang penulis lepas yang memilih untuk melepaskan jabatannya di sebuah media massa terkenal , agar dapat berkonsentrasi dengan bukunya yang akan diterbitkan

Dari mereka saya belajar tentang pilihan hidup dan rasa tanggung jawab yang membuat mereka mau dan mampu , melintasi segala rintangan yang pastinya tidaklah ringan dan mudah , mengingat betapa mapannya hidup mereka di masa lalu

Perjalanan yang menghasilkan teman, rekan, saudara dan sahabat serta ilmu yang tak ternilai harganya itu hanya berawal dari sebuah pelarian tanpa pemikiran dan perencanaan…

…sepertinya sudah saatnya saya melakukannya lagi …

Posted with WordPress for BlackBerry.

Written by Reza Puradiredja

18/08/2011 at 01:32

Posted in Personal

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. based on true story kah???? kereeenn… berpetualang itu memang mengasyikkan… menambah wawasan,, menambah pengalaman… #mupeng


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: