Live Journal

My Life as Reza Puradiredja

Sang Martir …

leave a comment »

Ketika dunia dimulai , tidak ada perasaan apapun selain melakukan yang terbaik. Perasaan senang , bangga dan optimistis meluap di dada seakan dunia dipenuhi oleh energi positif yang tidak kunjung berakhir. Segala hal dilalui dengan penuh keyakinan, kebaikan demi kebaikan datang menghampiri dan seakan melapangkan jalan demi tercapainya sebuah tujuan.

Dalam perjalanannya , cobaan dan ujian datang menghampiri dan bermodalkan keyakinan dan optimisme yang masih membara segalanya dapat dilalui, diperkuat dengan mulai tumbuhnya kebersamaan dan antusiasme yang kian menularkan energi positif seakan setiap orang adalah pendukung setia.

Maka datanglah kejenuhan beserta segala romantika nya . ketika api antusiasme dan optimisme mulai kehabisan bahan bakarnya dan ketika angin terus berhembus dari sisi yang sama dan meniupkan udara yang sama. Segala cahaya seakan tertutup awan mendung yang siap mencurahkan badai dan kebosanan akan kemapanan pun mulai mendera.

Kejenuhan yang berlarut larut membawa kreatifitas palsu dan inovasi semu. Ketika tujuan telah tercapai dan tiada lagi puncak untuk didaki , segala hal yang tadinya merupakan sesuatu yang berbau busuk dan ditinggalkan , kini mulai terlihat sebagai sebuah janji akan perubahan yang sekian lama terkubur.

Mengais dan memoles hal hal usang merupakan kegiatan yang tampak mengasyikan dan menantang , apalagi ketika yang usang tadi mulai menampakkan kemilaunya dan seakan membuahkan secercah harapan.

Ketika kemilau benda usang tadi mulai menyilaukan , ketertarikan akan cahaya yang menghangatkan pun seakan menjadi agama dan ideologi baru. Memupuskan segala tatanan dan koridor yang telah terbangun selama ini. Kenikmatan akan cahaya itu pun berubah menjadi candu yang membutakan segala pikiran dan nalar. Antusiasme palsu dan harapan kosong pun mulai menular dan bagaikan pes terus menyebar ke setiap kalangan , bahkan kepada golongan yang selama ini memandang sinis dan skeptis terhadapnya.

Ketika kepalsuan dan kekosongan telah menerpa , datanglah kehancuran. Kesatuan yang tadinya mengikat , kini mulai tercerai berai karena setiap individu sibuk untuk menyelamatkan dirinya sendiri tanpa peduli dengan ikatan dan persaudaraan yang selama ini terjalin. Taring dan cakar yang biasa tersembunyi pun kini telah diasah dan siap menerkam siapapun yang menghalang.

Pada saat itulah lahir seorang martir , seorang yang siap meledakkan diri dan mengorbankan segalanya demi terciptanya kedamaian. Seorang yang tidak peduli kepada kepentingannya sendiri dan meletakkan harapan serta impian yang sempat terlupakan di atas segalanya. Bahkan dia berani menantang sang dewa untuk turun dan melihat segala kekacauan yang terjadi.

Sang martir menawarkan jiwanya sebagai pengganti perdamaian yang dapat menyelamatkan dunia dari kehancuran total … dan Sang dewa mengangguk setuju …

Batavia , 24 Januari 2010

Written by Reza Puradiredja

24/01/2010 at 01:31

Posted in Random

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: