Live Journal

My Life as Reza Puradiredja

Ketakutan Akan Orang Lain

leave a comment »

Ketakutan akan orang lain adalah ketakutan besar. Akan tetapi ada cara untuk menaklukkannya. Anda dapat menaklukkan ketakutan akan orang jika Anda mau belajar menempatkan mereka pada “perspektif yang benar.”

Seorang teman bisnis, yang sangat berhasil dalam mengoperasikan pabriknya, menjelaskan kepada saya bagaimana ia mendapatkan perspektif yang benar mengenai orang. Contoh yang ia berikan menarik sekali.

“Sebelum masuk tentara dalam Perang Dunia II, saya takut-takut hampir kepada semua orang. Anda tidak akan percaya betapa pemalu dan cemasnya saya waktu itu. Saya merasa semua orang jauh lebih cerdik daripada saya. Saya khawatir mengenai fisik dan mental saya yang tidak memadai. Saya kira saya lahir untuk gagal.

Kemudian, suatu kebetulan yang menguntungkan membuat saya kehilangan rasa takut saya akan orang selama saya berdinas di Angkatan Darat. Selama sebagian dari tahun 1942 dan 1943, ketika Angkatan Darat melantik anggota secepat mungkin, saya ditempatkan sebagai perawat medis di sebuah kamp besar. Hari demi hari saya membantu memeriksa orang-orang itu. Semakin banyak saya melihat para prajurit baru itu, semakin kurang rasa takut saya kepada orang.

“Semua orang yang dibariskan telanjang bulat itu tampak sangat serupa. Memang ada yang gemuk dan kurus, jangkung, dan pendek, tetapi mereka semua sama-sama bingung, sama-sama kesepian. Padahal beberapa hari sebelumnya sebagian dari mereka adalah para eksekutif muda yang sedang menanjak. Sebagian adalah petani, sebagian wiraniaga, gelandangan, pekerja kasar. Beberapa hari sebelumnya, mereka adalah orang dengan bermacam jabatan. Namun, di depot pelantikan mereka semua sama.

“Saya memikirkan sesuatu yang mendasar saat itu. Saya tahu bahwa orang pada dasarnya mempunyai lebih banyak persamaan daripada perbedaan. saya mengetahui bahwa orang lain mirip sekali dengan saya. Ia menyukai makanan enak, ia merindukan keluarga dan teman, ia ingin maju, dan ia mempunyai masalah. Ia juga suka rileks.

“Jadi, jika orang lain pada dasarnya sama dengan saya, saya tidak perlu takut kepadanya.”

Ada dua jalan untuk menempatkan orang di dalam perspektif yang benar:

1. Miliki pandangan yang seimbang mengenai orang lain

Ingat dua hal ini sewaktu menghadapi orang: pertama, orang lain itu penting. Semua manusia penting. Akan tetapi ingat ini pula. Anda juga penting. Jadi, sewaktu berhadapan dengan orang lain, biasakanlah berpikir, “Kita adalah dua orang penting yang duduk bersama untuk membicarakan sesuatu demi kepentingan dan keuntungan bersama.”

Beberapa bulan yang lalu, seorang usahawan menelepon saya untuk mengatakan kepada saya bahwa ia baru saja mengangkat seorang anak muda yang saya rekomendasikan kepadanya belum lama ini.

“Anda tahu apa yang membuat saya menerima orang ini?” tanya kawan saya. “Apa?” saya bertanya. “Caranya bersikap. Kebanyakan pelamar masuk ke kantor saya dengan setengah ketakutan. Mereka memberi saya semua jawaban yang mereka pikir ingin saya dengar. Sedikit banyak mereka bersikap seperti pengemis – mereka akan menerima apa saja.

“Akan tetapi orang yang Anda rekomendasikan ini bersikap lain. Ia menghormati saya, tetapi yang sama pentingnya, ia menghormati dirinya sendiri. Ia juga mengajukan pertanyaan sebanyak yang saya ajukan kepadanya. Ia tidak seperti kelinci yang ketakutan. Ia benar-benar manusia, dan ia akan bekerja dengan baik.”

Sikap saling menganggap diri penting ini membantu membuat situasi seimbang. Orang lain itu tidak menjadi terlalu penting dibandingkan dengan diri Anda dalam pikiran Anda. Orang lain itu mungkin tampak sangat besar, sangat penting. Akan tetapi, ia tetap manusia biasayang pada dasarnya mempunyai minat, keinginan, dan masalah yang sama dengan Anda.

2. Kembangkan sikap penuh pengertian.

Memang tidak sedikit orang yang seolah mau menerkam Anda, menggertak Anda, menjadikan Anda sasaran dan menakut-nakuti Anda Jika Anda tidak siap menghadapi orang-orang seperti ini, mereka dapat merusak kepercayaan diri Anda dan membuat Anda takluk sepenuhnya. Anda memerlukan pertahanan untuk menghadapi orang-orang seperti ini.

Beberapa bulan yang lalu di meja pemesanan kamar hotel Memphis, saya melihat suatu demonstrasi yang bagus sekali mengenai cara yang tepat untuk menghadapi orang seperti ini.

Saat itu pukul 17.00 lebih sedikit, dan hotel sibuk mendaftar tamu-tamu baru. Orang di depan saya memberikan namanya kepada pegawai di belakang meja dengan dengan nada memerintah.

Pegawai tersebut berkata, “Ya, Tuan, kami sediakan satu kamar single untuk Anda.”

“Single?” bentak orang itu. “Saya memesan double.”
Pegawai tersebut berkata dengan sopan, “Coba saya periksa sebentar.”

Ia menarik permintaan pesanan tamu dari arsip dan berkata, “Maaf, Tuan. Telegram Anda menyebutkan single. Saya akan senang sekali menempatkan Anda di kamar double, kalau memang ada. Tetapi semua kamar double sudah penuh.”

Tamu yang berang itu berkata, “Saya tidak peduli apa bunyi kertas itu, saya mau kamar double.”
Kemudian ia mulai bersikap “anda-tahu-siapa-saya,” diikuti dengan “Saya akan usahakan agar Anda dipecat. Anda lihat nanti. Saya akan buat Anda dipe-cat.
Di bawah serangan gencar, pegawai muda tersebut menyela, “Tuan, kami menyesal sekali, tetapi kami bertindak berdasarkan instruksi Anda.”

Akhirnya, sang tamu yang benar-benar marah itu berkata, “Saya tidak akan mau tinggal di kamar yang terbagus di hotel ini sekarang – manajemennya benar-benar buruk,” dan ia pun keluar.

Saya menghampiri meja penerimaan sambil berpikir si pegawai pasti marah setelah baru saja dimarahi habis-habisan. Sebaliknya, ia menyambut saya dengan salam yang ramah sekali “Selamat malam, Tuan.”
Ketika ia mengerjakan rutin yang biasa dalam mengatur kamar untuk saya, saya berkata ke-padanya, “Saya mengagumi cara Anda mengendalikan diri tadi. Anda benar-benar sabar.”
“Ya, Tuan,” katanya, “Saya tidak dapat marah kepada orang seperti itu. Anda lihat, ia sebenarnya bukan marah kepada saya. Saya cuma korban pelampiasan kemarahannya. Orang yang malang tadi mungkin baru saja ribut dengan istrinya, atau bisnisnya mungkin sedang lesu, atau barangkali ia merasa rendah diri, dan ini adalah peluang emasnya untuk melampiaskan kekesalannya.”

Pegawai tadi menambahkan,

“Pada dasarnya ia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu.”

Sambil melangkah menuju lift, saya mengulang-ulang perkataannya, “Pada dasarnya ia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu.”

Ingat dua kalimat itu kalau ada orang yang menyatakan perang pada Anda. Jangan membalas. Cara untuk menang dalam situasi seperti ini adalah dengan membiarkan orang tersebut melepaskan amarahnya, dan kemudian lupakan saja.

Written by Reza Puradiredja

04/11/2009 at 02:03

Posted in Random

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: