Live Journal

My Life as Reza Puradiredja

Nyamplung Sebagai Bahan Baku Biofuel

with 8 comments

JAKARTA — Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman, Badan Litbang Kehutanan Departemen Kehutanan akan menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Nyamplung – Sumber Energi Biofuel yang Potensial” pada hari Selasa tanggal 23 September 2008 di Ruang Rimbawan I, Gedung Manggala Wanabakti, Jl. Gatot Soebroto, Jakarta. Seminar ini diselenggarakan dengan tujuan untuk mensosialisasikan potensi nyamplung sebagai bahan energi biofuel, dan mendukung kebijakan pemerintah dalam mengatasi krisis energi nasional.

Beberapa keunggulan nyamplung ditinjau dari prospek pengembangan dan pemanfaatan lain, antara lain adalah

  1. tanaman nyamplung tumbuh dan tersebar merata secara alami di Indonesia;
  2. regenerasi mudah dan berbuah sepanjang tahun menunjukkan daya survival yang tinggi terhadap lingkungan;
  3. tanaman relatif mudah budidayakan baik tanaman sejenis (monoculture) atau hutan campuran (mixed-forest);
  4. cocok di daerah beriklim kering, permudaan alami banyak, dan berbuah sepanjang tahun; hampir seluruh bagian tanaman nyamplung berdayaguna dan menghasilkan bermacam produk yang memiliki nilai ekonomi;
  5. tegakan hutan Nyamplung berfungsi sebagai pemecah angin (wind breaker) untuk tanaman pertanian dan konservasi sempadan pantai;
  6. pemanfaatan biofuel nyamplung dapat menekan laju penebangan pohon hutan sebagai kayu bakar;
  7. dalam pemanfaatannya tidak berkompetisi dengan kepentingan pangan.
  8. produktivitas biji lebih tinggi dibandingkan jenis lain
    • Jarak pagar 5 ton/ha;
    • sawit 6 ton/ha;
    • nyamplung 20 ton/ha.

Beberapa keunggulan biodiesel yang dihasilkan dari nyamplung adalah

  1. rendemen minyak nyamplung tergolong tinggi dibandingkan jenis tanaman lain (jarak pagar 40-60%, Sawit 46-54 %; dan Nyamplung 40-73 %),
  2. sebagian parameter telah memenuhi standar kualitas biodiesel Indonesia, minyak biji nyamplung memiliki daya bakar dua kali lebih lama dibandingkan minyak tanah. Dalam test untuk mendidihkan air, minyak tanah yang dibutuhkan 0,9 ml, sedangkan minyak biji nyamplung hanya 0,4 ml;
  3. mempunyai keunggulan kompetitif di masa depan antara lain biodiesel nyamplung dapat digunakan sebagai pencampur solar dengan komposisi tertentu,
  4. bahkan dapat digunakan 100 % apabila teknologi pengolahan tepat, kualitas emisi lebih baik dari solar, dapat digunakan sebagai biokerosen pengganti minyak tanah.
  5. dari proses pembuatan biodisel diperoleh hasil sampingan berupa gliserin bn (10%) dan strearin (coklat putih 4%).

Manfaat lain dari bagian tanaman nyamplung adalah

  1. kayunya yang termasuk kayu komersial, dapat digunakan untuk bahan pembuatan perahu, balok, tiang, papan lantai dan papan pada bangunan perumahan dan bahan kontruksi ringan;
  2. getahnya dapat disadap untuk mendapatkan minyak yang diindikasikan berkhasiat untuk menekan pertumbuhan virus HIV.
  3. Daunnya mengandung senyawa costatolide-A, saponin dan acid hidrocyanic yang berkhasiat sebagai obat oles untuk sakit encok, bahan kosmetik untuk perawatan kulit, menyembuhkan luka seperti luka bakar dan luka potong.
  4. Bunganya dapat digunakan sebagai campuran untuk mengharumkan minyak rambut.
  5. Bijinya setelah diolah menjadi minyak bermanfaat untuk pelitur, minyak rambut dan minyak urut, berkhasiat juga untuk obat urus-urus dan rematik.

Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) termasuk dalam marga Callophylum yang mempunyai sebaran cukup luas di dunia yaitu Madagaskar, Afrika Timur, Asia Selatan dan Tenggara, Kepulauan Pasifik, Hindia Barat, dan Amerika Selatan.  Di Indonesia, pohon ini dikenal dengan sebutan EYOBE (Enggano), PUNAGA (Minangkabau dan Makasar), PENAGO (Lampung), CAMPLONG (Madura, Bali, dan Timor), MANTAN (Bima), DINGKALRENG (Sangir), DONGKALAN (Mongondow), DUNGALA (Gorontalo), PUDE (Bugis), HATAN (Ambon), dan FITAKO (Ternate)

Minyak nyamplung tergolong minyak dengan asam lemak tak jenuh yang berantai karbon panjang, dengan kandungan utama berupa asam oleat 37,5%, asam linoleat 26,33%, dan asam strearat 19,96%. Selebihnya berupa asam palmiat, asam arechidat, asam linolinat dan asam erukat (Badan Penelitian dan Pengembangan Tanaman Kehutanan Bogor, 2006).

Sampai saat ini potensi alami nyamplung di Indonesia belum diketahui secara pasti, Hasil penafsiran tutupan lahan dari Citra Satelit Landsat7 ETM+ tahun 2003 menunjukkan bahwa tegakan alami nyamplung seluruh pantai di Indonesia mencapai luas total 480,000 ha, dan sebagian besar (? 60 %) berada dalam kawasan hutan.

Budidaya tanaman nyamplung tidak memerlukan investasi yang besar. Ketersediaan lahan yang potensial untuk pengembangan tanaman nyamplung juga tersebar di seluruh Indonesia. Bila seluruh kebutuhan biodiesel disuplai dari nyamplung, akan dibutuhkan biodiesel sebanyak 720.000 kilo liter atau setara dengan 5.1 juta ton biji nyamplung, dengan asumsi bahwa 2.5 kg biji nyamplung akan menghasilkan 1 liter minyak nyamplung; dengan demikian akan diperlukan luasan panen tanaman nyamplung minimal 254.000 hektar pada tahun 2025.

Dengan pola yang sama dengan kajian analisis ekonomi pada pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) yang menyebutkan bahwa dalam 1 ha diperlukan 1 orang tenaga kerja, pengusahaan tanaman nyamplung seluas 254 ribu hektar akan dapat menyerap 254 ribu tenaga kerja. Dengan berbagai potensi keunggulannya tanaman nyamplung merupakan tanaman yang memberikan multifungsi dan manfaat kepada manusia dan lingkungan. Multifungsi dan manfaat itu meliputi potensi nyamplung sebagai tanaman rehabilitasi hutan dan lahan, sebagai alternatif biofuel, serta meningkatkan pemberdayaan masyarakat.

DATA dan FAKTA

  • Di Cilacap, nyamplung dikembangkan oleh masyarakat di kecamatan Patimuan, Kroya dan Adipala untuk keperluan bahan baku pembuatan Perahu Nelayan. Seperti di daerah pesisir lain, pantai Cilacap memang memiliki banyak tanaman nyamplung yang buahnya berserakan, tidak termanfaatkan. Setidaknya, pohon nyamplung tersebar di area pantai seluas 350 hektare.
  • Pada 2007, Pemkab Cilacap menanam 148.225 pohon di area 135 hektare milik TNI Angkatan Darat.  Bupati Cilacap Probo Yulastoro mengungkapkan penanaman nyamplung meliputi area Kecamatan Adipala seluas 130 hektare, Binangun 50 hektare dan Nusawungu 170 hektare.Pada tahun ini, direncanakan penanaman 330.000 pohon di area 300 hektare.
  • Tak hanya di Cilacap Perum Perhutani KPH Banyumas Barat berencana menanam 400.000 plc pada tanah sengketa (Tenurial) di RPH Cikujang dan RPH Rawa Apu BKPH Rawa Barat seluas 1.000 hektare.
  • Satu-satunya hutan nyamplung yang dikelola dengan profesional ada di Perum Perhutani Unit I dengan luas hutan nyamplung mencapai 196 hektare.
  • KPH Kedu Selatan Jawa Tengah lewat Administratur Dwi Witjahjono, menargetkan penambahan luas hutan nyamplung pada 2009 menjadi 600 hektare dengan anggaran sekitar Rp.4 Juta per hektar. Pihaknya juga berencana untuk memproduksi biodiesel sebagai tambahan pendapatan KPH Kedu Selatan.
  • Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah menginstruksikan Menteri Kehutanan Malem Sambat Kaban agar segera mengembangkan budidaya tanaman nyamplung. Menteri Kehutanan Malem S. Kaban, saat meninjau tanaman nyamplung di Nusawungu, Cilacap, beberapa waktu lalu, mengatakan pemerintah menyediakan 3 juta bibit nyamplung untuk alokasi penanaman 3.000 hektare lahan.

Tahapan proses pembuatan minyak nyamplung.

  1. PENGUPASAN dari kulit yang keras
  2. PERAJANGAN hingga menjadi irisan tipis
  3. PENGERINGAN panas matahari selama 2-3 hari
  4. PENUMBUKAN
  5. PENCAMPURAN dengan air mendidih sambil diaduk merata

untuk bahan 30 kg, dengan 1,5 hingga 2 liter air panas

  1. PENGEPRESAN selama 5-6 jam.

Dari proses itu akan diperoleh minyak nyamplung dan bungkil.

  1. PEMANASAN untuk mengurangi kadar air tidak lebih dari 60_C atau dijemur di panas matahari.
  2. Selanjutnya, bungkil tersebut masih bisa diproses lagi sehingga menghasilkan minyak dengan menambahkan air dan dilakukan pengepresan berulang.

Sumino, Ketua Koperasi Jarak Lestari, Cilacap, menyatakan harga pokok produksi minyak nyamplung tidak lebih dari Rp4.000 per liter.  Koperasi Jarak Lestari mendapatkan pasokan nyamplung dari warga desa di sekitarnya. Buah ini dibeli dari warga desa senilai Rp700 per kg. Selain itu, pabriknya juga menyerap banyak pekerja pemecah biji dengan tarif jasa Rp500 per kg. Tetapi, sejauh ini hasil produksinya masih berupa kerosin, meski masih bisa ditingkatkan lagi menjadi biodiesel. Di samping itu, limbah olahan nyamplung bisa dibuat briket .

Tahapan proses pembuatan minyak nyamplung.

  1. PENGUPASAN dari kulit yang keras
  2. PERAJANGAN hingga menjadi irisan tipis
  3. PENGERINGAN panas matahari selama 2-3 hari
  4. PENUMBUKAN
  5. PENCAMPURAN dengan air mendidih sambil diaduk merata

untuk bahan 30 kg, dengan 1,5 hingga 2 liter air panas

  1. PENGEPRESAN selama 5-6 jam.

Dari proses itu akan diperoleh minyak nyamplung dan bungkil.

  1. PEMANASAN untuk mengurangi kadar air tidak lebih dari 60_C atau dijemur di panas matahari.
  2. Selanjutnya, bungkil tersebut masih bisa diproses lagi sehingga menghasilkan minyak dengan menambahkan air dan dilakukan pengepresan berulang.

Sumino, Ketua Koperasi Jarak Lestari, Cilacap, menyatakan harga pokok produksi minyak nyamplung tidak lebih dari Rp4.000 per liter.  Koperasi Jarak Lestari mendapatkan pasokan nyamplung dari warga desa di sekitarnya. Buah ini dibeli dari warga desa senilai Rp700 per kg. Selain itu, pabriknya juga menyerap banyak pekerja pemecah biji dengan tarif jasa Rp500 per kg. Tetapi, sejauh ini hasil produksinya masih berupa kerosin, meski masih bisa ditingkatkan lagi menjadi biodiesel. Di samping itu, limbah olahan nyamplung bisa dibuat briket

(antara/kompas/bisnis indonesia)

Written by Reza Puradiredja

31/10/2008 at 20:17

8 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. thanks infonya ya………………………………

    nurmy

    14/12/2008 at 13:18

    • you’re welcome … negara kita sangat kaya akan sumber daya bio energi … saya hanya membantu menyebarluaskan informasi yang akan sangat berguna demi kemandirian bangsa indonesia di bidang energi

      night elf

      14/12/2008 at 20:29

  2. ngomong2, dimana jualnya minyak nyamplung dan produksi minyak nyamplung dimana ya??saya berminat….

    puspita

    20/02/2009 at 14:59

  3. qt harus mencari sumbr energi lain selain fosil. nyamplung merupakan salah satu jawbnnya… indonesia ini kaya tapi orangnya kurang mengoptimalkan yang telah diberikan Tuhan.

    fatimah

    07/03/2009 at 05:27

  4. Bisakah minta tolong untuk memberitahukan komunitas Tanaman Nyamplung yang ada di Indonesia ataupun yang ada di dunia.
    Terima Kasih

    Elvandari

    12/03/2009 at 14:14

  5. Kira-kira kalau dibuat briket nyamplung bagus g?? kalo bisa saya minta bagaimana proses pembuatannya???

    Nanang F Sudrajat

    20/05/2009 at 02:41

  6. Pohon nyamplung sepert apa ya, katanya PTPN XIII mau mengembangkan nya UTK BIODISEL di Kab. Paser Kaltim. Kebetulan saya dari Paser.
    Terima kasih.

    muhsin

    21/05/2009 at 07:17

  7. dimana ada pabrik yang mengelola minyak nyamplung dan berapa harga nyamplung perKg

    yahya

    29/01/2010 at 07:37


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: