Live Journal

My Life as Reza Puradiredja

The Savior

with one comment

Hari ini entah kenapa aku lagi – lagi nengok jauuuh ke belakang dan berharap satu hal yang telah kutinggalkan akan kutemukan lagi di depan. Harapan dan kenangan berpacu dalam otakku dan membuatku kembali memikirkan strategi dan siasat untuk mendapatkannya kembali.

Setelah mikir kanan kiri ngalor ngidul. Tiba – tiba kepikiran seseorang yang udah laaama banget nggak aku ajak diskusi. One of my best friend sampe sekarang. Di jaman – jaman smu sampe kuliah mungkin dia orang yang paling ngerti aku n semasa itu kita sering sharing dan berbagi a shoulder to cry on

Karena beda operator, aku mikir smsan aja lah.lagian topik yang dibahas rada berat, perlu pemikiran lebih apalagi mengingat si best friend ini seorang ibu beranak dua yang pasti sibuk banget ditambah lagi ada kecenderungannya untuk bikin seberat apapun masalahnya jadi ringan dan solveable

1 jam, 2 jam sampe 3 jam berlalu. Kita bahas mulai dari kenapa, gimana, kapan dan apa yang sebenarnya adalah tujuanku. Setelah kita diskusi, telaah, bolak – balik, bongkar fakta dan data hingga  akhirnya sampe ke masalah do’a.

( tuinggg )

Tiba – tiba aku sadar, aku bukan orang yang deket sama Tuhan. Aku cenderung mengabaikan dan menganggap perintah – perintah –Nya layaknya angin lalu. Gimana caranya kita bisa ngambil sesuatu yang telah kita tinggalkan setelah sekian lama tanpa bantuan-Nya ?

Aku bisa aja berdoa

“ Ya Tuhan, izinkanlah aku untuk kembali menemukan

sesuatu yang telah lama kutinggalkan “

Sesuatu itu pasti juga akan berdoa seperti ini (sebagai pihak yang terdzalimi )

“ Ya Tuhan, jauhkanlah aku dari yang sesat dan bathil”

Yah, bagaimanapun masa lalu kami memang jauh dari Manfaat …. Lebih dekat kepada Mudharat

Siapapun sudah bisa menebak do’a siapa yang akan terkabul

Sang Best Friend Cuma mengatakan… “ it’s time to let go”

Akupun dengan ikhlas sambil tertawa lepas bisa mengatakan “ it’s time to let go”

“…Ikhlas adalah suatu kondisi

dimana hati serta pikiran tidak mengalami konflik

sehingga keduanya setuju dan sepakat akan satu hal…”

My best friend tahu akan hal ini.

Daripada berdebat habis2an dengan argumen – argumenku yang pasti tentu saja cenderung defensif

Dia cenderung untuk mengikuti where the river flow and showed me where I could make a better turn.

Akhirnya kita sampai di tempat yang awalnya bukan jadi tujuan utama. Tapi aku bisa menemukan apa yang aku cari, apa yang aku butuhkan dan apa yang menjadikan pikiran dan hatiku setuju dan sepakat…Ikhlas

Terima kasih yang sebesar – besarnya buat Ibu A.P atas masukan dan guidancenya

She’s really a Savior

night_elf

Written by Reza Puradiredja

21/09/2008 at 17:30

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. mas..mas…kenapa nama aku jadi Ibu AP? (kaya tersangka kejahatan aja, hehehehehehe….)

    btw, aku gak nyangka kalo obrolan kita bisa menjadi “pencerahan” buat kamu…secara, biasanya kita kan partner in crime ;-p

    miss to talk to you again,
    dhita

    dhita

    22/09/2008 at 01:54


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: