Live Journal

My Life as Reza Puradiredja

Posts Tagged ‘singkong mukibat

UBI KAYU : BAHAN PANGAN KELAS DUA, BAHAN BAKAR KELAS SATU

with 2 comments

Penurunan produksi minyak bumi nasional dan kenaikan harga minyak dunia yang semakin tinggi perlu disikapi dengan mencari sumber energi alternatif bersumber pada bahan terbaharui atau bahan bakar nabati. Melihat kondisi ini, Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 5 tahun 2006 tentang kebijakan Energi Nasional untuk mengembangkan sumber-sumber energi alternatif , INPRES No. 1 tahun 2006 tanggal tentang penyediaan bahan bakar nabati sebagai sumber bahan bakar dan tidak lupa KEPPRES No. 10 / 2006 dalam rangka percepatan program Pengembangan Bahan Bakar Nabati.

TEKNOLOGI BIO ENERGI

Saat ini teknologi yang berpeluang dikembangkan untuk pengadaan energi biofuel adalah Ethanol yang memiliki kandungan oksigen lebih tinggi sehingga terbakar lebih sempurna, bernilai oktan lebih tinggi serta ramah lingkungan. Industri ini berpotensi untuk berkembang sangat baik terutama setelah negara-negara maju mulai mengaplikasikan bio energi sebagai sumber energi alternatif selain sebagai bahan baku industri dalam bentuk alkohol yang telah kita kenal

BAHAN BAKU BIO ENERGI

Mengutip dari penelitian yang dilakukan Wahono Sumaryono dari Departemen Pertanian RI, sumber etanol tidak hanya berasal dari tebu dan singkong melainkan juga bisa didapatkan dari jagung, ubi jalar, sorgum, sweet sorgum, kentang, beet dan juga padi. Dari hasil penelitian tersebut diketahui efisiensi etanol yang tertinggi berasal dari jagung yang jumlahnya mencapai 400 liter per 1000 kilogram. Diikuti tetes tebu yang mencapai 250 liter per 1000 kilogramnya dan ubi kayu sejumlah 166,6 liter per kilogramnya. Data ini yang mendorong Amerika memutuskan kebijakan memilih jagung sebagai bahan baku bioetanol.

Namun, bila diimplementasikan dari hasil panen masing-masing jenis tanaman maka tanaman yang menghasilkan etanol dengan produktivitas tertinggi adalah tebu disusul dengan ubi kayu.

Bioethanol berbahan baku singkong cukup potensial untuk dikembangkan karena singkong merupakan tanaman yang sudah sangat dikenal oleh petani dan dapat ditanam dengan mudah meski tingkat kesuburan tanah di lahan tanam rendah. Singkong juga merupakan tanaman yang sangat fleksibel dalam usaha tani dan umur panen, ditambah lagi dengan ketahanan dari cekaman biotik dan abiotik.

DATA – DATA TENTANG SUMBER BAHAN BAKU BIO ENERGI YANG TERDAPAT DI INDONESIA

1 TON

BAHAN BAKU

KANDUNGAN GULA (KG)

JUMLAH HASIL BIOETHANOL (LITER)

RENDEMEN

Ubi jalar

150-200

125

12,5 %

Ubi kayu

250-300

166,6

16 %

Jagung

600-700

400

40 %

Sagu

120-160

90

9 %

Tetes Tebu

500

250

40 %

JENIS TUMBUHAN

PRODUKSI MINYAK (LITER PER HA)

ENERGI

(KWH PER HA)

Elaeis guineensis (kelapa sawit)

3.600-4.000

33.900-37.700

Jatropha curcas (jarak pagar)

2.100-2.800

19.800-26.400

Aleurites fordii (biji kemiri)

1.800-2.700

17.000-25.500

Saccharum officinarum (tebu)

2.450

16.000

Ricinus communis (jarak kepyar)

1.200-2.000

11.300-18.900

Manihot esculenta (ubi kayu)

1.020 – 3000*

6.600 – 20.000 *

*dengan penggunaan bibit unggul Mukibat

KETERSEDIAAN BAHAN BAKU & BIBIT

Hingga saat ini, untuk memenuhi kebutuhan bahan baku para investor tengah memanfaatkan lahan yang selama ini digunakan sebagai areal budidaya singkong secara tradisional. Lokasi terbesar berada di provinsi Lampung, dan lainnya tersebar di Jawa dan Sulawesi Tenggara. Areal lahan di Lampung lebih kurang mencapai tiga ribu hektar, dan di Jawa di bawah 1.000 hektar. Sayangnya, bibit yang ditanam di lahan-lahan tersebut jumlahnya tidak lebih dari dua persen dari target areal tanaman.

Berdasarkan kontribusi terhadap produksi nasional terdapat sepuluh propinsi utama penghasil singkong yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Sumatera Selatan dan Yogyakarta yang menyumbang sebesar 89,47 % dari produksi Nasional sedangkan produksi propinsi lainnya sekitar 11-12 %.

Karena itu, penyediaan bibit unggul yang disebut dengan singkong sambung mukibat itu tidak bisa menyamai kecepatan jalannya industri. Begitu pula dengan penyediaan bibit nonmukibat yang berasal dari Departemen Pertanian di Malang dan sentra-sentra Petani Penyemai Bibit Singkong yang bekerja mandiri di Sukabumi, aluku Utara dan Kutai, masih sangat terbatas.

Untuk itu, tim nasional pengembangan BBN meminta pemerintah dapat memberikan izin impor bibit unggul singkong. Menurut Ketua Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati, Alhilal Hamdi, impor ini untuk mengimbangi kebutuhan industri karena sedikitnya Indonesia membutuhkan tambahan bantuan bibit sebanyak 4,4 juta ton untuk mencapai target industri sebesar 645 ribu kiloliter per tahunnya.

INVESTOR PELOPOR INDUSTRI BIO ENERGI

Setidaknya sudah ada lima investor yang telah menjalankan industri bioetanol yaitu Medco Group, Melindo Group, Sungai Budi (Tbk), Sampoerna Group, dan Sorini Corp. Kapasitas produksinya antara 60 ribu hingga 300 ribu kiloliter per tahunnya. Salah satu Investor dalam industri bioethanol adalah PT Medco Energi Chemicals yang telah menginvestasikan dana sebesar $ 45 Juta untuk pengembangan industri energi alternatif bioetanol yang menggunakan bahan baku singkong di Lampung dan rencananya akan memiliki kapasitas produksi mencapai 180 kiloliter per harinya atau mencapai 60 ribu kilo liter per tahunnya. Untuk mencapai target produksi Medco sedikitnya memerlukan 1200 ton singkong per harinya dengan membeli dari para petani sekitar karena belum memiliki lahan tanam sendiri.

Investor luar Negeri juga mulai melirik Indonesia sebagai negara penghasil ubi kayu terbesar ketiga (13.300.000 ton) setelah Brazil (25.554.000 ton), Thailand (13.500.000 ton) serta disusul negara-negara seperti Nigeria (11.000.000 ton), India (6.500.000 ton) dari total produksi dunia sebesar 122.134.000 ton per tahun. Hal ini setidaknya telah dipelopori dengan ditanda tanganinya Nota Kesepahaman/ MOU antara PT Perkebunan Nusantara VIII dengan EP Energy Co. Ltd.Pihak investor dari Korea Selatan yang menyatakan siap membeli berapapun hasil produksi komoditas itu untuk memenuhi pasokan pasar ekspor untuk bahan baku bioetanol.

MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS

Dalam upaya penyediaan bahan baku, usaha yang perlu diperhatikan terutama adalah peningkatan produktivitas singkong dengan masukan teknologi budidaya yang tepat. Peningkatan produksi tanaman ubi kayu dapat dilakukan dengan pengusahaan secara perkebunan atau pengusahaan dalam skala besar dengan arah pengembangan di lahan-lahan marjinal dan teknologi yang dapat meningkatkan hasil per tanaman ubi kayu, salah satunya adalah dengan menggunakan teknologi mukibat..

Hasil penelitian Ahit et al., (1981) menunjukan bahwa penggunaan teknologi mukibat dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan diameter akar sehingga menghasilkan bobot yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman ubi kayu biasa. De Bruijn dan Guritno (1990) menyatakan bahwa peningkatan produksi ubi kayu sistem mukibat maningkat 30% dan bahkan dapat mencapai lebih dari 100 %. Sebagai gambaran pada tahun 70an, almarhum Westernberg dari Medan mampu menghasilkan  sampai 80 ton singkong biasa dari satu hektar lahannya hanya dengan menerapkan sistem pertanian organik

MASA DEPAN SINGKONG

Masa depan singkong sebenarnya sangat baik. Selama ini singkong yang diolah menjadi tepung gaplek (casava) adalah sumber karbohidrat dalam industri pakan ternak. Sementara pati singkong (tapioca) adalah  bahan baku High Fructose Syrup (HSF), Citric Acid dan bahan baku kerupuk, bakso dan pempek Palembang yang pangsa pasarnya terus meningkat. Sementara Ethanol sudah lama digunakan oleh kalangan industri Kosmetik, Farmasi, Rokok, Makanan dan Minuman

Di masa mendatang singkong berpotensi menjadi salah satu pengganti bahan bakar fosil dan setelah diolah menjadi methanol dan dipadatkan dalam bentuk gel dapat diolah menjadi bahan bakar sistem cel ( fuelcell ) yang ramah lingkungan. Methanol yang dikonversi menjadi hidrogen, setelah diberi oksigen dapat menghasilkan listrik dengan bahan buangan berupa uap air (H2O).

Masih pantaskah kita menganggap Singkong sebagai tanaman ‘kelas dua’ ?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,665 other followers

%d bloggers like this: